Bodoh Kontekstual

bodoh adalah
bodoh adalah

Orang sering sensitif kalau dikatain bodoh. Sesungguhnya, orang yang paling bodoh adalah yang hanya sensitif kalau disebut orang bodoh, tapi tidak pernah memperbaiki kekurangannya. Saya dianggap kasar, sok pintar, arogan, karena sering menyebut orang lain “bodoh”. Silakan. Persoalannya, apakah yang bersangkutan menyadari di bagian mana dia bodoh? Dalam sudut pandang tertentu, orang yang mau menunjukkan kebodohan kita itu orang yang baik hati.

Beberapa orang manajer saya ternyata punya masalah yang sangat parah dalam penulisan. Mereka menyerahkan pekerjaan kepada saya dalam bentuk tulisan yang ejaan maupun redaksinya berantakan. Saya komentari: Ini pekerjaan orang bodoh!

Kasar? Silakan anggap begitu. Bagi saya para manajer ini telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Pertama, ia mengabaikan tata bahasa, seolah itu hal sepele. Kedua, ia menyerahkan pekerjaan yang belum selesai kepada atasan.

Di tempat kerja yang lama, mungkin itu tidak dianggap masalah. Nah, justru di situ kuncinya. Di tempat di mana kesalahan Anda dibiarkan, Anda tumbuh dengan memelihara kekurangan. Berat rasanya ketika dikoreksi. Apalagi saat Anda sudah manajer. Ada manajer yang berpikir,”Aku sudah manajer, masa masih dikoreksi untuk hal-hal sepele begini.” Bagi manajemen, ini bukan soal sepele. Bahasa sama sekali bukan soal sepele. Saya dulu pernah 2 hari babak belur dikoreksi profesor saya, hanya untuk menulis 2 paragraf naskah makalah ilmiah.

Ada yang menyadari kesalahan, lalu mengoreksi diri. Ada yang mementingkan gengsinya, lalu mengundurkan diri.

Bodoh itu sesuatu yang sebenarnya kontekstual. Manusia cenderung bodoh dan membodohkan diri. Itu yang saya pelajari dari buku “Thinking Fast and Slow” tulisan pemenang Hadiah Nobel Ekonomi, Daniel Kahneman. Otak kita punya kecenderungan untuk “malas”, lalu mencari jalan pintas. Itulah yang memicu banyak kesalahan berpikir. Kesalahan berpikir itu menjadi berbagai bentuk kebodohan.

Bahkan para ahli pun sering terjebak pada kebodohan jenis itu. Sebuah pesawat ulang alik meledak, akibat keputusan yang diambil karena bias. Kurang bodoh apa, coba?

Ketika saya katakan bodoh, saya berharap orang mengoreksi diri. Saya sendiri juga bodoh dalam banyak hal, dan dikatain bodoh oleh banyak orang, dengan berbagai cara. Untungnya saya belum kenyang dengan itu semua.

Selanjutnya, tinggal memilih. Terus mengoreksi diri, atau mencari kepuasan dengan balik memaki “kamu juga bodoh“.

Sumber : Kang H Idea