Memanggil Pulang Periset Indonesia

Memanggil Pulang Periset Indonesia
Memanggil Pulang Periset Indonesia

Erick Tohir menyebut ingin memanggil pulang periset Indonesia yang terlibat dalam pengembangan vaksin Astra Zeneca. Ini sebenarnya apa sih? Basa basi atau serius.

Gini, lho. Dipanggil pulang itu mau diapain? Mau disuruh apa? Mau disediakan apa? Mau bikin vaksin? Maaf, tanpa maksud meremehkan kemampuan peneliti yang dimaksud, bikin vaksin itu bukan kerja satu orang, dan bukan pula kerja setahun dua tahun. Pengembangan Vaksin AstraZeneca mungkin baru setahun lebih. Tapi proses pendahuluannya sudah berlangsung bertahun-tahun sebelumnya. Itu harus dipahami dulu.

Artinya, tujuan memanggil orang itu harus jelas. Bukan seperti memanggil orang untuk bikin kelepon. Kalau memang pemerintah ingin membangun fondasi riset tertentu, misalnya pengembangan vaksin, itu baik saja. Masalahnya, emang programnya belum ada? Setahu saya riset itu sudah dikerjakan di Eijkman. Nah, yang mau dipanggil pulang itu, mau dimasukkan ke situ?

Tapi kan di Eijkman itu belum berhasil? Ya. Karena itu perlu ditanya dulu, kenapa belum, dan apa masalahnya. Apakah karena SDM yang ada di situ tidak mumpuni? Atau, karena ada soal lain. Apakah memasukkan orang tambahan ke situ akan menyelesaikan masalah?

Orang Indonesia itu suka gumunan. Begitu mendengar ada orang Indonesia jadi bagian tim hebat, lantas banyak orang berkhayal, kalau dia dibawa ke Indonesia, kita akan punya tim hebat. Itu seperti berpikir, kalau misalnya 10 tahun yang lalu kita bawa pulang Raja Nainggolan, kita akan bisa jadi juara Asia atau ikut Piala Dunia, atau bahkan jadi juara dunia. Ini sesat pikir.

Orang Indonesia di sebuah tim di luar negeri biasanya mengerjakan satu bagian. Untuk membuat sesuatu, sekali lagi, kita butuh banyak bagian lain. Jadi soalnya tidak sesederhana itu.

Jadi, janganlah ngoceh-ngoceh sembarangan.

Saya seorang yang tertarik dengan dunia SEO, Berdasarkan Ayat Alkitab Mazmur 23 dan Mazmur 91, Saya membuat mazmur.id