Memetakan sebuah Masalah

Memetakan sebuah masalah
Memetakan sebuah masalah

Kemarin ada kawan menelepon saya, konsultasi. Ia sekarang bekerja di perusahaan startup. Tadinya ia bekerja di perusahaan yang sudah mapan, posisi dia pun cukup mapan. Kata dia, pekerjaan sekarang sangat dinamis, serba cepat, dan tensi tinggi. Beban kerja bertumpuk, semua harus dikerjakan buru-buru. Dia merasa tak nyaman. Ia membandingkannya dengan pekerjaanya yang terdahulu. Dulu ia bisa bekerja dengan nikmat, menyalurkan passion. Sekarang tidak ada lagi kenikmatan kerja, sekadar seperti robot saja.

“Apakah saya memang tidak cocok bekerja di perusahaan startup? Atau, apakah ini karena usia saya sudah tidak muda lagi? Rekan-rekan kerja saya memang anak-anak muda yang masih serba gesit,” katanya.

Saya tidak punya banyak pengalaman di start up. Pengalaman ringkas saya hanya jadi advisor di sebuah perusahaan start up selama 3 bulan, 3 tahun yang lalu. Sejauh yang bisa saya amati, sebenarnya tak ada hal khusus soal startup atau bukan. Ini sebenarnya soal manajemen saja.

Apa sih perusahaan startup? Sederhananya, itu perusahaan baru. You start up a new business, then it is a startup company. Saya mulai usaha jualan rendang, ini juga sebuah start up. Cuma orang sering membatasi maknanya, bahwa start up itu selalu terkait dengan teknologi digital, sehingga start up terdengar begitu keren.

Pertama, ini perlu kita luruskan. Tidak semua perusahaan start up itu keren. Tidak sedikit yang sekadar bikin website, lalu mengadakan webminar, sudah mengaku start up, dan pendirinya sudah mantap memasang label “founder” dan “CEO” pada dirinya.

Kedua, pertanyaan penting. Kenapa start up dianggap berbeda dengan perusahaan lama? Apakah manajemennya berbeda? Menurut saya, prinsip-prinsip manajemen berlaku sama. Yang berbeda hanya gayanya. Perusahaan start up membuka ruang yang lebih bebas, sehingga bisa terjadi proses pembuatan keputusan cepat. Rantai birokrasi dipotong dengan penyerdehanaan proses persetujuan, misalnya. Atau, proses itu dipermudah dengan teknologi. Misalnya dari proses persetujuan dengan tanda tangan yang memang memakan waktu lama, menjadi digital melalui gawai, sehingga orang bisa memberikan persetujuan di mana pun ia berada, tanpa perlu menunggu ia kembali ke meja kerja.

Apakah itu karakter khas start up? Bukan. Itu cuma soal keluwesan manajemen. Tidak semua perusahaan mapan itu birokratis. Sebaliknya, tidak semua start up itu luwes.

Itulah yang kemudian terbuka dari obrolan kami selanjutnya. Kawan saya ini bercerita bahw dia sering harus melakukan pekerjaan yang menurut dia tidak perlu. Penjadwalannya juga kacau. Lalu, semua proses harus mendapat persetujuan dari atas, termasuk hal remeh seperti pembelian bernilai satu dua juta rupiah.

Persis seperti yang saya bayangkan. Perusahaan start up disebut dinamis atau serba cepat, mungkin hanya benar sebagian. Sebagian yang lain sebenarnya adalah serba rush, serba buru-buru. Kenapa? Karena manajemennya tidak rapi. Banyak urusan dikerjakan secara serampangan, tanpa penyiapan fondasi. Prinsipnya, jalani aja dulu.

Berikutnya, soal fleksibel. Ciri perusahaan start up, katanya, adalah kerja yang fleksibel, out of the box. Ya, banyak gagasan kreatif di sana. Tapi tidak sedikit juga yang salah kaprah. Fleksibel dianggap sama dengan bekerja tanpa disiplin. Waktu saya jadi advisor di perusahaan startup dulu, itu yang saya tekankan. “Kamu mau mulai kerja jam 9 atau jam 11 pagi, itu bukan masalah. Kamu mau kerja sampai jam 3 pagi pun, silakan. Tapi delivery hasil kerja kamu tidak bisa fleksibel. Ketika dituntut harus delivery, kita tidak bisa minta delivery fleksibel, molor,” kata saya. Nah, rush tadi sering kali terjadi karena banyak yang molor di sana sini. Itu bukan dinamika.

Bagaimana dengan soal passion? Secara berkelakar saya bilang, passion saya ada di duit. Selama sesuatu menghasilkan duit, saya akan bersemangat mengerjakannya, dan saya akan menikmatinya. Sering kali kita memanjakan diri dengan istilah passion. “Ini bukan passion saya, saya tidak menikmatinya,” begitu kata orang-orang.

Prinsip saya,”It is nice if you do the things you love. But, it is more important that you love what you do.” Letakkan fokus kita pada tujuan. Yang membuat pekerjaan itu nikmat adalah tujuan kita. Waktu baru lulus saya sempat menganggur sebentar, selama proses pengangkatan jadi dosen. Waktu itu saya menumpang di rumah kakak. Karena tidak mau makan gratis, saya membantu dia kerja di toko. Saya sarjana, dengan senang hati bekerja memarut kelapa dan melayani pembeli di toko. Kenapa? Pekerjaan itu memberi saya makan. Dengan bekerja itu saya tidak numpang makan gratis. Dalam situasi itu bisa makan adalah tujuan, dan itu menjadikan hal sederhana yang saya lakukan tadi sebuah passion.

Baca Juga : Tips memanfaatkan KTA Online untuk Modal Usaha

Intinya, kita bisa menikmati semua hal yang kita kerjakan, kalau ada tujuan mulia yang mau kita raih dari pekerjaan itu.

Bagaimana dengan soal usia? Kawan saya ini baru berusia 46 tahun. Masih sangat muda, sebenarnya. Opung Luhut itu sudah 74 tahun. Ia masih tetap energik. Tentu saja sangat dinamis dan super sibuk. Mungkin jauh lebih sibuk dari rata-rata anak-anak muda di perusahaan start up.

Ini hanya soal kebugaran saja. Usia 35, kalau badan tambun susah bergerak dan digerogoti diabetes, kinerja dan kemampuan dinamisnya tidak akan lebih baik dari kakek berusia 70 tahun. Di usia 53 ini saya masih sanggup kerja dari jam 5 pagi, sampai jam 8 malam

Di akhir obrolan saya tegaskan kepada kawan saya tadi, bahwa dia hanya keliru memetakan masalah. Salah memetakan, salah pula langkah yang disusun untuk menyelesaikannya. Anjuran saya, segera lakukan analisis manajemen di perusahaan tempat dia bekerja, memilah apa yang perlu dan tidak.

Kata Covey,”The key is not to prioritize what’s on your schedule, but to schedule your priorities.”

Sumber : Kang Hasan

Saya seorang yang tertarik dengan dunia SEO, Berdasarkan Ayat Alkitab Mazmur 23 dan Mazmur 91, Saya membuat mazmur.id