Soal Penjajahan adalah Soal Keberpihakan

Ilustrasi Penajajah
Ilustrasi Penajajah

Ada kawan yang sekarang sudah tidak lagi berteman dengan saya di Facebook. Saya putus hubungan pertemanan itu. Kenapa? Males aja lihat polahnya. Dia sangat getol mengecam pendudukan Israel di Palestina. Tapi dia bergembira ketika Turki menetapkan fungsi Hagia Sophia sebagai sebuah masjid. Tentu saja ia sangat bergembira dengan sejarah penaklukan Konstantinopel oleh Turki. Ia anggap itu sebagai kemenangan. Padahal dia orang Indonesia, bukan orang Turki.

Apa yang dilakukan oleh Turki itu? Penaklukan, pendudukan, dan penguasaan. Itu berlangsung hingga sekarang. Bayangkan kalau Masjidil Aqsa itu diambil Israel kemudian dijadikan sinagog. Apa perasaan umat Islam? Itulah yang terjadi dengan Hagia Sophia tadi, yang ia sambut dengan riang gembira.

Oleh banyak orang Indonesia, Turki itu jarang disebut penjajah. Tidak pula disebut kolonial. Padahal yang dilakukan Turki sejak abad XV itu tak lebih dan tak kurang, sama dengan yang dilakukan oleh Belanda, Inggris, Jerman, dan negara-negara Eropa lain.

Sahkah Israel menduduki tanah di wilayah bekas jajahan Inggris itu? Itu sama dengan pertanyaan, sahkah pendudukan Turki atas Konstantinopel yang kini bernama Istanbul. Sama halnya, apakah Australia itu sebuah negara merdeka, atau sekadar sebuah penjajahan yang dilegalkan. Orang-orang menganggap Israel tidak sah berada di situ, karena penduduknya didatangkan dari Eropa. Itu sesungguhnya kurang lebih sama dengan yang terjadi di Australia.

Jadi, apa yang dilakukan Israel? Israel menduduki tanah yang ia menangkan melalui perang. Penjajahan? Boleh saja disebut begitu. Tapi seperti saya tulis tadi, apakah Turki mau disebut menjajah Istanbul?

Ringkasnya, tidak ada hukum standar yang menetapkan apa yang disebut penjajahan, apa yang bukan. Suka atau tidak, dunia ini masih ditentukan oleh kekuatan senjata. Pemenang perang sering kali menentukan sejarah. Lebih tegas lagi, yang disebut penjajahan itu sering kali hanya soal di mana kamu berdiri. Kalau pelakunya adalah golonganmu, kau menyebutnya pembebasan dan kemenangan yang direstui Tuhan.

Jadi bagaimana? Konsisten sajalah. Kalau kau riang dengan pendudukan tanah oleh orang yang segolongan denganmu, jangan mengeluh dengan dalih kemanusiaan kalau tanah milik golonganmu diduduki pihak lain. Kalau kau riang gembira melihat golonganmu merampas rumah ibadah atau tempat suci umat lain, jangan mengeluh ketika rumah ibadah golonganmu dirampas golongan lain. Jangan pakai dalih kemanusiaan. Derajat kemanusiaanmu sudah merosot jauh.

sumber : Kang H Idea

Leave a Reply

*