Puisi Romantis – Puisi merupakan penggalan dari kata – kata yang dirangkai menjadi sebuah kalimat yang memiliki makna, terlebih jika itu puisi romantis seperti dalam film roman picisan.
Pada kesempatan kali ini tim mazmur.id tidak membahas tentang sinopsis film roman picisan, melainkan membahasan kumpulan puisi romantis roman picisan yang bisa membuat sobat mazmur menjadi berbunga – bunga.
Tim redaksi mazmur.id pun sudah merangkum beberapa puisi romantis roman picisan yang bisa sobat mazmur lihat pada artikel dibawah ini.
Kumpulan Puisi Roman Picisan
“Aku dan jenuhku, bersama membisu. Terlalu jauh untuk meraih, bintang yang sedang ku tatap. Aku serta senyumku, mengikuti diam maupun termenung meratap mimpi, yang sekarang hilang dalam sekejap” –Roman Picisan
“Jangan tanya sedang apa aku hari ini, sebab yang kulakukan selalu sama. Sedang mencintaimu. Sedang mengharapkanmu. Setiap hari.” – Roman Picisan
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Tanpa memikirkan rumitnya rumus fisika dan juga sulitnya perhitungan ekonomi.” – Roman Picisan
“Aku maupun bosku ibarat senja serta malam, saling berdampingan meskipun demikian tak dapat bersatu” – Roman Picisan
“Kakak adalah ketidak pastian yang kuperjuangkan” – Roman Picisan
“Aku dan kau bagaikan laut dan juga pantai.. seperti api dan juga bara yang meninggalkan debu,, menyatu seperti sinar mentari menyentuh embun pagi.. menjadikannya tetesan air sebening kristal” – Roman Picisan
“Kata orang di Utara, mawar itu indah. Aku diam. Kata orang di Selatan, krisantemum lebih indah. Aku diam. Kata orang di Timur, melati paling indah. Aku diam. Orang di Utara, Selatan, maupun Timur diam. Aku bilang, Wulandari yang terindah.” – Roman Picisan
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan, Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.” – Roman Picisan
“Di penghujung hari yang hampir hilang. Ku tetap menggenggam rasaku. Tanpa memiliki kesimpulan tentang rasamu. Hanya mampu ratapi rasaku. Serta mendoakan munculnya rasamu.” – Roman Picisan
“Kupikir benci. Ternyata ku peduli. Ku rasa dendam. Ternyata rasa terpendam. Apa ini cinta?” – Roman Picisan
“Kupikir pisau itu tajam tapi perkataanmu lebih menghujam Kupikir bangkai itu busuk meskipun demikian penolakanmu lebih menusuk” – Roman Picisan
“Cintaku tak harus beli dirimu, meski perih mengiris-iris segala janji” – Roman Picisan
“Cinta kau datang tanpa dikira, kau pergi tanpa menyapa.. Cinta kau itu indahkan dunia, meskipun demikian kau tak lupa menabur luka.. Cinta, aku mohon padamu jangan datang biar pergi jangan berbahagia lalu menyakiti..” –Roman Picisan
“Perempuan itu bernama Wulandari, Bulan purnama artinya..bahkan bidadari.. Meskipun demikian dimataku..Wulandari adalah bahaya.. Bahkan harus dihindari” – Roman Picisan
“Kata orang benda termahalmu adalah waktu Karna hanya sekali tak bisa diputar kembali Jadi..kuberterima kasih kepada Wulandari Supaya terbuangnya waktu yang takkan kembali” – Roman Picisan
“Di penghujung hari yang hampir hilang Ku tetap menggenggam rasaku Tanpa memiliki kesimpulan tentang rasamu Hanya mampu ratapi rasaku Termasuk mendo’akan munculnya rasamu” – Roman Picisan
“Kata orang cinta itu buta namun kenapa aku tetap bisa memandangi keindahanmu Kata orang cinta tak ada logika Meskipun demikian kenapa pikiranku teratur menyimpan senyumu Kata orang cinta itu menyakitkan Namun kenapa aku tetap bertahan” – Roman Picisan
“Kalian adalah kebenaran yang harus kuingkari Sis adalah keindahan yang tak mampu kunikmati Kalian adalah keindahan yang hadir lewat mimpi” – Roman Picisan
“Berat bibir ini terucap Perih mata ini menatap Menjelang hadirnya perpisahan Perpisahan bagiku derita Memenjarakan kenangan Menaburkan luka Tapi perpisahan punya janji Pasti akan bertemu lagi Selama bukan perpisahan abadi” – Roman Picisan
“Ketika kita menghadapi kesulitan Termasuk kami tidak menyerah Itulah kekuatan pihak kami” – Roman Picisan
“Ya Allah, mungkin aku bukan orang baik Sebaliknya aku percaya kau pasti mendengarkan do’aku ini Ya Allah, sembuhkanlah semua luka beserta sakit pada Wulandari Serta jagalah dia sebaik-baiknya malam ini sebab aku tidak mampu melakukannya. Aamiin” – Roman Picisan
“Apakah kamu tahu saat aku bilang aku benci kalian hatiku menjerit tak setuju Apakah anda tahu saat aku bilang aku rela melepasmu itu kebohongan terburuk” – Roman Picisan
“Kupikir sudah lupa, Ternyata rasa itu masih ada. Mungkin hanya Wulan yang mampu merusak move on sebulan!” – Roman Picisan
“Sebulan berlalu… Serta aku hanya bisa menggenggam rindu,,, Berharap mampu lupakan.. Tanpa perlu mengingat senyummu..” – Roman Picisan
“Ini kesimpulan tentang hatiku.. Tentang rasa yang bergitu hebat Tentang rindu yang menggeliat Tentang dirimu, yang semakin berat biar kupikat..” – Roman Picisan
“Waktu, Bukankah dia percaya sebagai pengobat luka? Namun kenapa detik ini dia hadir sebagai pengingat lara” –Roman Picisan
“Saat aku lelah, Kuminta rindu Supaya pergi.. Namun rindu, sudah tersesat, dalam labirin.. Hati.. Bersemayam abadi, untuk aku terus teringat semuanya Tentang bosku…” – Roman Picisan
“Tentang rindu yang mengusik Biarlah ini jadi tanggung jawabku Pagi biarkan memburu senja.. Senja biarkan merangkul malam Sebab waktu takkan mampu menyapu rinduku Sebaliknya bosku… Kamu adalah tujuan akhir rinduku berlabuh..” – Roman Picisan
“Adakah rasa yang lebih menyakitkan, Dari hilangnya hak biar menyapamu, Adakah rindu yang lebih menyesakan, Dari sirnahnya kebersamaan toko kami..” – Roman Picisan
“Kepercayaan itu ibarat kata sebuah kaca Saat kaca itu pecah, Pecahan kaca itu pun menjadi tajam Kepercayaan gue sama lo Saat ini udah pecah.. Detik ini gua adalah pecahan kaca yang tajam itu Jadi lebih baik, lo jaga jarak dari gue Oleh karena gue bisa aja melukai lo” – Roman Picisan
“Seandainya cinta sungguh mencinta, Dia tidak meminta.. Bilamana cinta sungguh berharga, Dia tidak memaksa.. Senyumanmu adalah harapanku.. Bahagiamu adalah segalaku.. Meskipun senyuman serta bahagiamu.. Tanpa aku..” – Roman Picisan
“Asri lah jiwaku, Jangan bersedih Tulus lah seperti Hujan dimalam hari Yang tidak bisa Menampilkan pelangi” – Roman Picisan
“Saat seseorang sudah berikan rasa adem Mengusirnya sangat menyulitkan Menggantinya hanyalah sebuah kemustahilan” – Roman Picisan
“Taukah sis… Saat temaram hatiku terang oleh senyumu Aku serahkan rinduku untukmu Saat gerimis senja hilang oleh pelangi di matamu Aku titipkan harapanku padamu Tetaplah menjadi rembulan Di atas langit itu Supaya aku selalu menatapmu” – Roman Picisan
“Saudara yang manis sebaliknya perlahan mengikis Agan berjanji menjaga akan tetapi perlahan menabur jelaga Ku tak perlu semua indah Ku tak menginginkan bahagia Hanya satu kupinta apapun yang terjadi Kau tetap ada” –Roman Picisan
“Inilah aku… Seorang pujangga yang ingin Menjadi penjuang cinta Aku merangkai asa dengan keterbatasanku Berharap .. ambil hitungan detik yang kilat ini Demi selalu bersamamu..” – Roman Picisan
“Cinta itu butuh waktu.. Tidak pernah datang.. lebih dahulu… Ataupun bahkan terlambat.. Datang.. Cinta selalu menyapa.. Pada saat yang.. Tepat..” – Roman Picisan
“Aku disini… Serta kau di seberang jalan itu, Ada lampu merah di tengah pihak kami, Menjadi pembatas tanpa jeda Lampu merah… Berubahlah menjadi hijau, Untuk tidak ada lagi yang menghalau.” – Roman Picisan
“Saat malam datang tanpa hadirnya bintang kau datang berikanku cahaya saat angin semilir tak menyejukan hatiku kau hadir membawa kesejukan lewat senyumu.. Ijinkan hasratku bersandar dihatimu demi rasa ini bisa memberi kehangatan di dalam hatimu” – Roman Picisan
“Seseorang berkata, ada satu cara membuat wanita jatuh cinta… yaitu buatlah dia tertawa.. Sebaliknya ku tak pernah bisa oleh karena.. saat dia tertawa, Justru diriku yang semakin cinta” – Roman Picisan
“Ada banyak panggilanmu bunda, mama, atau ibu Satu yang pasti, panggilan itu lebih mulia daripada ratu Kau relakan tubuhmu, sebagai pintu join tim kami ke dunia ini Kau hancurkan egomu, demi hadirkan tawa Dibalik derai tangis kami, kau adalah pelangi dalam jiwaku Kau lah kehangatan, disaat aku lelap dalam pangkuanmu” –Roman Picisan
“Orang bilang.. Hati butuh seseorang tuk berlabuh.. Aku tak setuju.. Karena berlabuh bisa berlayar lagi Dan meninggalkan luka hati.. hatiku butuh lokasi perhentian abadi tanpa mencari lagi.. aku berharap.. itu ada pada wulandari” – Roman Picisan
“Harta paling berharga adalah waktu Warisan paling tak ternilai adalah kesetiaan Apabila keduanya, kudapat darimu Ku tak inginkan lagi semua yang semu..” – Roman Picisan
“Harta paling berharga adalah waktu Warisan paling tak ternilai adalah kesetiaan Seandainya keduanya, kudapat darimu Ku tak inginkan lagi semua yang semu..” – Roman Picisan
“Cinta..tidak pernah salah Akan tetapi cinta..tak selalu indah Cinta tak pernah menyiksa Dia hanya menguji rasa Cinta..tak akan pergi Bilamana hasrat ingin bersama Selalu kembali” – Roman Picisan
“Perempuan itu.. Bernama Wulandari Bulan purnama artinya Bahkan bidadari Pesonanya.. membawa warna indah dalam pandanganku Senyumannya.. Menyerap udara di sekelilingku” – Roman Picisan
“Keindahan ini bernama Wulandari yang mengalirkan hangat, dalam setiap aliran rinduku Kenyamanan ini masih tentang Wulandari yang selalu membawaku kepada pengharapan hatiku Sekarang aku hanya bisa berucap lirih tentang waktu andai sang waktu tak pernah berakhir wulandari.. pasti tetap bersamaku” – Roman Picisan
“Matamu memikat.. Tawamu mengikat.. Bohong kalau aku tak terpikat.. Sebaliknya dayaku.. Sebatas pandang.. Tanpa hak memiliki.. Tanpa rasa kuasa menyayangi..” – Roman Picisan
“Papa.. Kau membuatku percaya Seandainya cinta itu ada Dari caramu mencintaiku. Papa.. Bagiku mama sangat berharga Sebaliknya sayangku padamu Juga tak terkira Papa.. Kau telah bahagiakan aku Karena itu Aku pun ingin kau bahagia. Cerita cinta barumu terukir di pabrik ini.. Akan tetapi ku yakin Bukan melupakan yang telah pergi Dikarenakan.. Kenangan adalah harta yang abadi” – Roman Picisan
“Ku bohong jika ku tak rindu Oleh karena tiap hari kuterbayang Ayah maupun Ibu Godaan mengintai Biar kembali ke kampung halaman Mengiris tekadku di perantauan Sebaliknya aku.. Aku tak boleh lemah Aku tau aku tak boleh kalah Biarlah lautan rindu ini Kubalas dengan kebanggaan Yang akan aku bawa pulang” – Roman Picisan
“Rindu.. Kau remas hatiku Saat hasrat ingin bertemu Tapi terhalang oleh waktu Waktu.. Seandainya nanti terobati rinduku Ku mohon hentikan detikmu Supaya aku bisa bersamanya selalu” – Roman Picisan
“Waktu berputar Meskipun demikian hatiku Tak kunjung pintar Kembali berdarah Selalu bernanah Saat menghampiri Penolakanmu Setiap tak dapat Disambutmu..” – Roman Picisan
“Di hujung musim yang menyisakan dingin Daun-daun berguguran. Pohon-pohon bertumbangan Akar-akar pun berteriak Tanah pun kering kerontang. Kemana hujan yang ku rindu Kemana pula pelangi yang kutunggu Mungkin memang mereka.. Mereka ingin mati. Mungkin pula mereka memang tak peduli lagi… Pada manusia Yang tak bisa menjaga berkah Ilahi” – Roman Picisan
“Hormat untuk Sang saka romansaku Terima kasih pada Sang Pencipta Atas Wulandari Yang kau ciptakan..” –Roman Picisan
“Matamu terbuka.. Sebelum mentari ada Langkah mu tegak tercipta Mengejar impian dunia. Uang.. Bagimu yang utama Waktu.. Hanya bagi dia semata Keluarga.. itu nomor dua Persahabatan.. Sudah tiada artinya. Namun apa yang kau dapat kawan Hanyalah aroma kehampaan Rasa bangga tak kunjung datang Dan harimu berakhir Lantaran takdir Tuhan. Dikelilingi sahabat maupun keluarga Mereka menangisi kepergianmu bukan uangmu” –Roman Picisan
“Aku melihat cinta di kejauhan.. Indah tatapnya.. Manis senyumnya.. Ku kira.. Dia kan datang.. Nyata nya hanya menaruh angan.. Hatiku diam.. Meratap takdir yang ku genggam. Ku tenun harapan.. Meskipun demikian Tuhan yang punya ketentuan.” – Roman Picisan
“Roda mesin yang ku naiki ini.. Terus menjauh.. Apa dia kembalipun.. Aku tak tau.. Yang sekarang ku tau.. Hanya Wulandari.. Yang searang jauh termasuk ku rindu.. Yang saat ini jauh Dari tatapan mataku.. – Roman Picisan
“Biarpun jarak membentang Mata tak bisa saling memandang.. Ku biarkan kata-kata berkelana Menembus hati yang jauh Menghapus.. Semua air mata yang jatuh”- Roman Picisan
“Penyesalanku membuncah tak terbendung Saat kusadari.. Ku tak mampu membuatmu terlindung Hati dan juga jiwaku luluh lantak Saat kulihat keindahan di hadapanku terkoyak Andaikan keajaiban tercipta untukku Ku ingin hadirkan peduliku ke sisimu” – Roman Picisan
“Bapak.. Kulihat gurat lelah di wajahmu Membias menyapu senyum di bibirmu Sebaliknya aku tau Lelahmu tak memudarkan kasih sayangmu Mak, Kaulah pelangi diruang damaiku Kau hempaskan peluh dengan kasihmu Agar damai ini selalu hangat bersamaku Lalu.. Kulihat malaikat kecil yang kusebut adik Tersenyum membawa damai Tertawa ceria membawa suka Bukan harta yang menjadi warisan tak terperih Tapi keluarga yang saling menyayangi”- Roman Picisan
“Rindu.. Kau remas hatiku saat hasrat ingin bertemu Meskipun demikian terhalang oleh waktu Waktu.. Jika nanti terobati rinduku Kumohon hentikan detikmu Agar aku bisa selamanya selalu” – Roman Picisan
“Pelangi itu, kini bisa kulihat lagi warnanya senyum itu, kini bisa kurasakan lagi manisnya Bidadari itu, masih tetap sama indahnya Masih tetap sama namanya masih tetap Wulandari yang ku puja” – Roman Picisan“Ini bukan tentang romansa Namun ini tentang arti bersama Saat tangan terbiasa merangkul Detik ini patah oleh karena ego yang terkumpul Sahabat.. Langkah kami biarlah terus beriringan Tanpa ada amarah di angan Jangan biarkan dahan kami patah Jangan biarkan persahabatan terbelah Kau lah.. Arti bersama yang sesungguhnya” – Roman Picisan
“Malam ini.. Ku tatap jelaga hitam Menyelimuti hati yang terperosok dalam.. Aku sesak.. Aku tenggelam dalam dendam Aku teriak.. Dalam amarah dan gigi gemertak Ku butuh kedamaian.. Untuk meraihku dari ruang hampa yang gelap Dari dendam yang membuat pengap Hampiriku wahai ikhlas Oleh karena ku tak ingin, semakin tergilas” –Roman Picisan
“Cintaku sederhana.. Saat ku lihat bidadariku tersenyum, Kupastikan dia akan ada di pelukku.. Takkan pernah ku biarkan siapapun merampas Keindahan pelangi di matanya Rasaku juga tetap sama.. Demi pelangi itu.. Belum tentu bisa ku genggam.. Sebaliknya ku selalu menatap warna indahnya..” – Roman Picisan
“Hitam menyelimuti langitku, melahap senjaku Wahai malam, Gelapmu sungguh kelam Membuatku tak mampu terpejam Wahai bintang gemerlap, Bersinarlah kerlip-kerlap Terangi langit itu, Sinari hatiku” – Roman Picisan
“Kupikir.. Aku sudah membuat semua orang iri Sebab ku terbang bersama bidadari Khayalku membumbung ke angkasa Anganku.. Menari melintasi cakrawala Tapi.. Seketika badai menghajar Meremukan khayalku tanpa ampun Menghempas anganku bagai lapas Saat ini ku terdiam dalam perih Meratapi bidadari yang tak mampu ku raih” – Roman Picisan
“Bulan purnama itu merintih Bidadariku tertatih Senyumannya tak bisa kunikmati Cerianya tak hadir pagi ini Sembuhlah purnamaku Sehatlah bidadariku Sebab aku tidak mampu Melewati satu hari tanpa tawamu” –Roman Picisan
“Ya Allah Hamba tak punya hak agar meminta kepadamu Supaya semua permasalahan ini pergi dari hamba Tapi hamba mohon kepadamu ya Allah Berikanlah kekuatan maupun kesabaran Untuk hamba bisa menjalani ini semua Beserta buatlah hamba percaya Akan ada rencanamu yang indah di balik semua ini” – Roman Picisan
“Ku ingin terbang kelangit itu menggapai bintang nan cemerlang tuk ku persembahkan pada bapak ku Ku mau menyelam samudra mendapatkan mutiara nan berkilau agar ku mahkotakan pada mamak ku akan tetapi.. yang kudapat hanyalah pecahan kaca yang merobek harapa bapak menjadi luka yang menghancurkan mimpi mamak” –Roman Picisan
“Cintaku sederhana.. Hanya ingin disisi wulandari.. Menjaga bulan purnamaku tanpa henti.. Melindungi bidadariku tanpa terganti.. Meskipun demikian… Takdir memaksa cinta ini menjadi kering.. Hanya sebagai hiasan dingding.. Lantaran dianggap tak pantas bersanding” – Roman Picisan
“Jantungku bergetar hebat Setiap khawatirkanmu Nadiku bergetar anti rayap Setiap ku tahu kau terluka Harusnya kau tahu Aku bukan dewa Aku tak selalu mampu menjaga Namun tak sanggup bila kau celaka” – Roman Picisan
“Mataku menolak tak untuk percaya Memaksaku melihat kau Terbaring tak berdaya Ku menangis pilu Saat ku tau Dia yang mampu jagai dirimu Wajahku seperti tertampar Egoku menggelepar Karna ku tak berguna Karna ku tak menjadi pahlawanmu” – Roman Picisan
“Ingin ku remehkan cemburuku Sebaliknya ku tak mampu Karna hitamnya menutup relungku Haruskah ku kasihani cintaku yang detik ini terluka karna sembilu Dadaku sesak Nalarku terisak Saat aku mulai tertatih Pada cinta yang semakin perih” – Roman Picisan
“Aku percaya.. Persahabatan ini Telah dewasa pada akhirnya Dia memberi tenteram dengan tawa Dia puas dengan kebersamaan Dia tulus dengan pengorbanan Persahabatan ini tak selalu saling memuji Tidak juga ada niat demi menyakiti” – Roman Picisan
“Bulan purnamaku Kenapa harus ku lihat kau tak Bersinar cemerlang Bidadariku, Kenapa harus air itu basahi Wajahmu yang jelita Taukah saudara.. Hatiku merintih Saat kulihat kau bersedih” Taukah bosku, Jiwaku merontah Demi selalu membuatmu tertawa” – Roman Picisan
“Seandainya tidak ada rasa Mana mungkin hati ini bergetar Setiap menatapmu.. Seandainya tidak ada cinta Pasti hatiku tak peduli Melihat tangismu.. Ya Tuhan.. Bilamana cinta ku benar sederhana Kenapa harus ada rasa yang rumit ini..” –Roman Picisan
“Lagi-lagi aku salah Ku kira hari ini sudah cukup Tapi perjuanganku untukmu Masih terus berlanjut Kukira aku harus menjauh Meskipun demikian didekatmu Selalu menjadi tugasku Kuharap aku akan selalu salah Sesalah saat aku mengira Kau bukan jodohku” – Roman Picisan
“Sekarang.. Aku baru paham kecantikan bidadari Setelah melihat kau didepan mata Sekarang.. Ku mengerti keindahan bulan purnama Setelah menikmati cahayamu ditempat ini Seandainya ku bisa menawar waktu Kan ku minta dia tunduk padaku Tetaplah keindahan itu nyata Agar aku bisa damai dalam cinta” – Roman Picisan
“Tuhan.. Izinku menari Dikarenakan telah ku sadari.. Rasa ini bukan milik ku sendiri Tuhan.. Iringi ku bernyanyi Lantaran ku kantungi sebuah bukti Saat ini.. Kuserahkan seluruh hati dan asaku Hanya kepada satu nama Namanya Wulandari Bulan purnama artinya Bahkan bidadari” – Roman Picisan
“Maafku mungkin tak seberapa Akan tetapi ku ucapkan Dengan sepenuh jiwa Maaf.. Ku sering buatmu kecewa Buatmu tak percaya Buatmu tak bisa bedakan Rasa maupun bercanda Sebaliknya cukup sampai disini kebohongan ini yang ku ingin.. Cinta kami.. Di ukir mulai dari sini..” – Roman Picisan
“Bidadari itu saat ini menjadi milikku
Yang Tuhan titipkan untukku jaga
Harus ku pastikan
Dia baik-baik saja
Ku kerahkan segala upaya
Biar dia tak terluka
Karena menatap senyumannya
Membuatku percaya
Seandainya semua ini nyata” – Roman Picisan
“Selamat malam bulan purnamaku
Tidur nyenyak bidadariku” – Roman Picisan“Belantara hidup ini
Begitu indah ku pijak
Disini aku merangkul sahabatku
Serta disana kupeluk bidadari cintaku
Tuhan..
Jangan hadapkan aku
Pada kata memilih
Sebab sahabat atau cintaku
Keduanya begitu berarti
Jangan sampai ada yang terlukai” – Roman Picisan
“Sakit diraga ini
Masih bisa kutangani
Tapi bilamana hati ini terlukai
Ku hanya bisa mensyukuri
Sesakit apapun kurasa pada badan ini
Semua akan kalah dengan secuil perih di hati
Inikah sakitnya patah hati
Mengiris perih yang tak terperi
Biarlah sedih ini kunikmati
Dan juga kujalani pedih ini
Dengan hati” – Roman Picisan
“mencintaimu adalah pilihan
dicintai oleh mu kuanggap anugerah
menyakitimu kujaga dengan segenap upaya
disakiti olehmu kuterima semampu raga” – Roman Picisan
“Saat kulihat matahari terbenam
Munculah bulan yang menawan
Dan bintang yang rupawan
Sinarnya pun indah menyinari dunia
Meskipun demikian sinar indah itu kalah oleh seseorang
Seseorang dengan hati dan juga senyuman bidadari
Seseorang yang membawa cinta yang tulus
Seseorang yang memberikan kasih yang putih
Tuhan..
Akankah bidadari itu tercipta selamanya untukku
Akankah diriku ini selamanya tercipta untuknya” – Roman Picisan
“Tuhan..
apakah ini mimpi
bidadariku tak inginkanku lagi
Tuhan..
Apakah harapanku untuk sang purnama
Tak pernah pergi terlalu tinggi
Ku hanya ingin cinta yang sederhana
Ku hanya mau menjaga
Kebersamaan ini selamanya” – Roman Picisan
“Ini bukan sekedar pertolongan
Atau supaya di anggap pahlawan
Tapi harus kucoba yakinkan
Hasratku bukan hanya mainan” – Roman Picisan
“Jangan tanyakan siapa aku,
Lantaran aku akan selalu menjadi
Seseorang yang memujamu
Laki-laki mencintaimu,
Apapun rasamu kini
Aku tidak peduli
Sebab rasaku yang besar ini
Sudah teruji..” – Roman Picisan
“Toko kami sepakat mengawali semua ini,
Namun kau sepihak mengakhiri..
Perusahaan kami berjanji perjuangkan kebersamaan ini,
Namun kau menyerah tanpa kusetujui..
Padahal rasa ini milik tim kami..
Kenapa hanya aku yang tersiksa..
Padahal..
Masih ku ingat ikrar cinta kita
Kenapa saat ini kita
Tak bertegur sapa..” – Roman Picisan
“Wulandari..
Benar aku jatuh hati padamu
Beserta ku cocok lantaran kau
Masih disisiku
tetap menjadi milikku
Walaupun..
Aku masih belajar menikmati Syahdu rindumu
Jangan pernah meminta janji
Supaya kau selalu ku sayangi
Tanggung jawab cintaku adalah nyawa..
Meskipun tak sempurna..
Seperti dewa..” – Roman Picisan
“Matahari gak perlu ngomong
Kalau dia bersinar
Langit juga gak berisik
Menyatakan kalau dia tinggi
Oleh karena apa..
Lantaran lo akan tau dengan sendirinya” – Roman Picisan
“Bulan purnama hadir di angkasa
Menerangi dunia..
Wulandari hadir di SMA 712,
Membuat duniaku berwarna,
Tidur nyenyak bidadariku..” – Roman Picisan
“Maaf..
Adalah satu kata sederhana
yang melegakan jiwa
Maaf..
Empat huruf biasa
Tapi melapangkan hati
Menyinari wajah kita
Memberikan kesempatan
bagi cinta
Supaya tumbuh kembali” – Roman Picisan
“Melihatmu bersusah..
Hatiku resah
Bulan purnama..
Izinkan aku yang jalani susahmu..
Lelah cukup untuk tangan dan kakiku..
Jangan tangan kaki bidadariku..” – Roman Picisan
“Terima kasih Ya Allah
Atas segala nikmat rezeki termasuk karuniaMu
Ya Allah hamba percaya
Bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan
Semua atas kehendak beserta izinMu Ya Allah
Ya Allah..
Ku serahkan semua langkah dalam hidupku padaMu
Tuntunlah hamba ke jalanmu yang benar
Lindungilah hamba dan semua orang yang hamba sayangi
Yaitu mamak, bapak, adik hamba Yola dan Wulandari” – Roman Picisan
“Kebersamaan ini indah
Takkan pernah
Kubiarkan bidadariku pergi
Takkan kubiarkan
Bulan purnama terganti
Andai waktu tak tersekat
Kan ku biarkan
Keindahan ini terus terikat” – Roman Picisan
“Laki-laki
Kau diciptakan penuh tenaga
Karna kau harus berkorban
Agar keluarga
Bukan menyiksa jiwa beserta raga” – Roman Picisan
“Pak..
Walaupun kata-katamu kasar
Ku tau kau berhati besar
Pak..
Aku janji padamu
Peluh keringatmu
Akan ku balas dengan semangatku
Air matamu
Akan kubayar dengan prestasiku
Tak berani ku janjikan gunung padamu
Akan tetapi ku pastikan, ku takkan buatmu malu” – Roman Picisan
“Tentang rasaku yang sederhana
Hanya ingin tak berpisah lagi
Meskipun demikian kenapa..
Awan mendung menghiasi indahnya langit
Kenapa..
Mentari menarik diri beri hangatnya lagi
Kenapa semesta
Selalu mencari celah untuk menghalangi” – Roman Picisan
“Keselamatnmu..
sekarang menjadi tugasku
Menjagamu..
Sama seperti menjaga hidupku
Inilah janji hati
Yang akan selalu kutepati
Hidup pun akan ku beri
Asal Wulandari
Tak tersakiti” – Roman Picisan
“Ketika romansa..
Menjadi sebuah rahasia..
Bersembunyi menjadi pilihan bersama..
Berikan kita sedikit waktu lagi..
Jika tiba saatnya nanti..
Mereka akan mengerti..
Bahwa cinta toko kami..
Sepadan..
Dengan semua pengorbanan ini..” – Roman Picisan
“Guruku, saat aku baru mengenal aksara..
kaupun ajari aku menghitung angka..
Saat aku baru mengerti bahasa
Kaupun ajari aku tentang logika
Guru, kaulah pahlawan dalam kepintaranku,
Kaulah pembimbing sukses masa depanku,
Terima kasih guru atas ilmu yang berguna untukku” – Roman Picisan
“Aku memang cinta..
Sebaliknya ku tak perlu meratap saat rindu meluap
Beserta kutambah bedak pada hiasan wajahmu
Demi wajahmu terlihat lebih manis
Akan kuwarnai mukamu dengan lipstik
Demi bibirmu merah merona..” – Roman Picisan
“Saat hujan telah selesaikan tugasnya,
Senja datang penuh dengan pesona,
Langitpun kirimkan indahnya pelangi,
Mengantar wangi sejuta peri..
Meskipun disana ada kilau para putri,
akan tetapi bagiku..
Hanya satu yang pantas jadi bidadari..
Wulandari, yang takkan bisa buatku pergi” – Roman Picisan
“Orang bijak bilang..
Bermimpilah yang tinggi..
Meskipun demikian jangan lupa berjuang..
Untuk kau bisa menggapai sang mimpi..
Aku..
Pernah bermimpi menggapai bidadari..
Serta detik ini..
Aku tertawa bersama bidadariku..
Wulandari..” – Roman Picisan
“Rasa apakah ini..
Pisau tak menyakiti kulitku..
Tapi ku merasa perih..
Api tak melukai tubuhku..
Namun panas membara menyelimuti..
Mungkinkah ini cinta..?
Pada dia..
Yang sudah ada yang punya..” – Roman Picisan
“Kau termasuk aku menyusuri jalan berliku..
Kerikil tajam sakiti kedua kaki ku..
Angin dingin menusuk tubuhmu..
Akankah tim kami berhenti sampai disini..
Ataukah perusahaan kami saling melengkapi..
Dimana aku ciptakan kehangatan api..”
Serta kau menyemat kain menjadi alas kaki..” – Roman Picisan
“Aku berbuat baik..
Tapi mereka menghakimi..
Aku sadar ini adalah ketentuan Tuhan..
Yang sedang mengajarkanku keikhlasan..
Ya Allah..
Jika ini memang ujian darimu
Kuatkanlah aku
Jangan biarkan imanku jauh..
Hanya oleh karena setitik pedih darimu” – Roman Picisan
“Aku takut menyayangimu
Meskipun demikian aku sayang
Aku takut jatuh cinta padamu
Meskipun demikian aku makin cinta
Detik ini ku takut kehilanganmu
Meskipun demikian kau tak hilang
Terima kasih bidadari
Terima kasih wulandari” – Roman Picisan
“Ku pijak tanah ternyata duri..
Saat ku rasakan ujian ilahi..
Akan tetapi ku lihat senyum sang putri disana..
Begitu penuh pesona..
Menarik luka yang ku rasa..
Tuhan..
Biarlah ku tanggung semua beban termasuk derita..
Asal tetap ku lihat senyuman bidadariku disana..” – Roman Picisan
“Keindahan ini sedang indah-indahnya
Membuatku bertanya-tanya..
Apakah ini nyata..
Maupun hanya halusinasi mata..
Yang ku mampu lakukan hanya berdo’a..
Agar Tuhan..
Selalu menjaga aku dan rasa..
Kalian maupun cinta..
Menjaga romansa..
Milik perusahaan kami..” – Roman Picisan
“Saat aku jatuh terpuruk tak berdaya
Persahabatanku ku agungkan di nadiku
Tekadku ada di pundak mereka
Harapanku awet
Dalam genggaman mereka
Keharuan mana yang bisa ku dustakan
Melihat ketulusan yang tak terbantahkan
Semangat mereka begitu membara
Mencari keadilan yang tak bermuara” – Roman Picisan
“Dulu..
Waktu kau anggap musuh
Karna berputar teramat lambat
Akan tetapi sejak mengenalmu
Waktu berputar kian cepat
Bagai melayang
Seperti hatiku yang senang
Hingga ku merasa seakan terbang” – Roman Picisan
“Ini tentang aku yang berusaha bertahan
Saat kabar itu menghujam kepastian
Apa yang harus aku lakukan?
Saat bidadariku terbang dengan seseorang
Sebaliknya tidak,
Peri cintaku tak mungkin hilang
Karena wanginya kan slalu ku pegang
Tak peduli langit berguncang
Wulandari..
Ku mohon padamu
Jangan buatku merasa terbuang” – Roman Picisan